Malam yang selalu sepi dan sunyi. Mempunyai ketenangan tersendiri didalam hati. Mempunyai romantisme rahasia hati yang tersimpan dalam malam yang gelap. Dengan hembusan angin yang menerpa wajah. Membuat hati semakin damai dan tentram. Malam sungguh sangatlah nyaman bila diajak bersenda gurau. Tetapi malam tidak dapat berbicara. Malam hanya bisa menemani saat hati sedang tidak menentu tak tahu arah. Hanyalah malam yang mengerti semuanya. Karena malam mengajarkan tentang arti kesendirian. Tetapi jika malam dapat berbicara, kutak mungkin sendirian dalam malam yang sunyi ini. Malam oh malam. Kurindu saat saat lagitmu dipenuhi banyak bintang dan sang rembulan yang bersinar terang bagai lampu di hajatan. Jika kupandang ke sudut kota hanya gemerlap lampu yang tampak disana. Tanpa ada suara apapun yang terdengar. Karena malam itu sunyi, sepi, mendamaikan. Mungkin hanyalah suara jangkrik dan kodok yang bersautan. Hanya suara suara mereka yang membuat malam serasa hidup...
Saya Aptika Dwi Lestari. Lahir di Batu, 4 April 2001. Saya seorang pelajar di Madrasah Aliyah Negeri Kota Batu. Saya cewek yang agak tomboi jika dibilang. Karena saya suka semua yang menantang dan penuh adrenaline. Oleh sebab itu saya dibilang tomboi oleh temen temen. Meskipun begitu saya tetap menutup aurat dengan baik dan benar. Karena itu kewajiban sebagai seorang Muslimah. Kalau ngomongin cita cita. Di masa depan nanti saya ingin menjadi Istri yang Sholeha dong ya. Dulu sih ingin jadi perawat, tapi seiring berkembang nya zaman kujadi ingin menjadi seorang dosen yang hafal 30 juz. Untuk saat ini kegiatan saya masih labi banget lah maklum remaja. Sering ikut ikutan jika temen ginilah itulah. Akhir akhir ini sering berpetualang melihat indahnya semesta dan juga senja. Entah kenapa dari dulu suka banget sama yang namanya senja. Tapi sayang, senja hanyalah bertahta sekejap. Jika ngomongin tentang saya tidak ada habisnya meski sampai 10 lembar. ...
Aku pernah berjalan disebuah bukit Tak ada air Tak ada rumput Tanah terlalu kering untuk ditapaki Panas selalu menghantam kaki dan kepalaku Aku pernah berjalan diatas laut Tak ada tanah Tak ada batu Air selalu merayu Menggodaku masuk ke dalam pelukannya Tak perlu tertawa atau menangis Pada gunung dan laut Karena gunung dan laut Tak punya rasa Aku tak pernah melihat gunung menangis Biarpun matahari membakar tubuhnya Aku tak pernah melihat laut tertawa Biarpun kesejukkan bersama tariannya (Payung Teduh)
Komentar
Posting Komentar